Jawa Timur Raih Juara Umum Kejurnas Atletik U-18 dan U-20

JAKARTA, KOMPAS.com – Provinsi Jawa Timur berhasil menjadi juara umum pada Kejuaraan Nasional Atletik U-18 dan U-20 2017 yang berlangsung di Stadion Atletik Rawamangun, Jakarta.

Jawa Timur memastikan status juara umum pada ajang ini berkat raihan 37 medali, dengan rincian 15 emas, 13 perak, dan 9 perunggu.

Pada hari terakhir, Senin (24/4/2017), Jawa Timur menambah 6 medali emas, 2 perak, dan 1 perunggu.

Tiga medali emas di antaranya diraih Jawa Timur melalui nomor lomba lari 5.000m putra (yunior), 4x100m estafet putra (yunior), dan 4x400m putra (yunior).

Sementara itu, posisi kedua perolehan medali diduduki oleh Provinsi DKI Jakarta. Mereka mengoleksi total 29 medali dengan rincian 11 emas, 10 perak, dan 8 perunggu.

Adapun sang juara tahun lalu, Jawa Tengah, kini hanya menempati urutan ketiga pada daftar perolehan medali.

Tahun ini, Jawa Tengah mendapatkan 10 emas, 14 perak, dan 14 perunggu (total 38 medali).

Perlombaan hari terakhir juga terjadi satu pemecahan rekor yang ditorehkan oleh atlet Lampung, Nabella Ariantika, pada nomor sapta lomba putri (yunior). Ia mengukir rekor anyar setelah mengumpulkan 4051 poin.

Berikut ini adalah daftar lengkap perolehan medali Kejurnas Atletik U-18 dan U-20 2017 hingga Senin (24/4/2017).

1. Jawa Timur 15 13 9 = 37
2. DKI Jakarta 11 10 8 = 29
3. Jawa Tengah 10 14 14 = 38
4. Jawa Barat 9 12 9 = 30
5. Sumatera Barat 8 5 7 = 20
6. Riau 3 5 2 = 10
7. Bangka Belitung 3 2 4 = 9
8. Maluku 3 1 3 = 7
9. Sulawesi Selatan 3 1 2 = 6
10. Lampung 2 2 1 = 5
11. Banten 2 2 2 = 6
12. Bali 2 1 1 = 4
13. Nusa Tenggara Barat 2 1 1 = 4
14. DI Yogyakarta 2 1 0 = 3
15. Sumatera Utara 2 0 1 = 3
16. Aceh 1 1 1 = 3
17. Bengkulu 1 1 2 = 4
18. Gorontalo 1 0 3 = 4
19. Jambi 1 0 1 = 2
20. Maluku Utara 0 3 0 = 3
21. Papua Barat 0 1 1 = 2
22. Sumatera Selatan 0 1 1 = 2
23. Kalimantan Timur 0 1 0 = 1
24. Kalimantan Barat 0 1 0 = 1
25. Kalimantan Utara 0 0 1 = 1
26. Sulawesi Tenggara 0 0 1 = 1
27. Kalimantan Selatan 0 0 1 = 1

sumber

SAMBUT KEBANGKITAN MELALUI PEMERATAAN PEMBANGUNAN

UINSA Newsroom, Senin (22/05/2017); Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang biasa diperingati setiap tanggal 20 Mei, tahun ini sedikit berbeda. Dikarenakan hari peringatan yang jatuh pada hari libur kantor tersebut, sehingga berdasarkan Edaran dari Sekdaprov, beberapa instansi di Jawa Timur menggelarnya pada 22 Mei 2017. Salah satunya UIN Sunan Ampel Surabaya. Harkitnas Ke-109 tahun 2017 yang diperingati guna mengenang perjuangan pergerakan Boedi Oetomo sekaligus membangkitkan kembali semangat kebangsaan dan nasionalisme itu mengusung tema “Pemerataan Pembangunan Indonesia yang Berkeadilan sebagai Wujud Kebangkitan Nasional”.

Dilaksanakan di halaman Gedung Twin Tower, upacara peringatan Harkitnas Ke-109 tahun 2017 tersebut dipimpin Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. M. Sahid, M.Ag. membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara, Dr. Sahid menyampaikan, bahwa semangat kebangkitan nasional tidak pernah memudar, namun justru semakin menunjukkan urgensinya bagi kehidupan berbangsa. Padahal semangat itu sudah tercetus setidaknya 109 tahun yang lalu, ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo yang hingga sekarang tetap ampuh menyatukan dan menyemangati gerak kita sebagai bangsa.

“Betapa tak mudahnya para pendahulu merajut angan Ke-Indonesiaan saat itu, ketika infrastruktur dan komunikasi masih terbatas, ketika sumber daya insani yang teguh dengan pemikiran Ke-Indonesia-an masih dapat dihitung dengan jari, ketika acuan untuk memperkokoh dasar-dasar kesamaan suku bangsa dan adat masih belum mengakar kuat, ketika semuanya itu berada dalam konteks ketakutan akan kekejaman kolonialis yang siaga memberangus setiap pemikiran yang memantik hasrat lepas dari belenggu penjajahan,” ujar Dr. Sahid menegaskan.

Karena itu, dalam sambutan tersebut Menkominfo mengapresiasi upaya Presiden Joko Widodo pada awal tahun 2017 yang telah mencanangkan penekanan khusus pada aspek pemerataan dalam semua bidang pembangunan. Sebab, pada awal tahun 2017, meski angkanya membaik dibanding tahun sebelumnya, koefisien Nisbah Gini atau Gini ratio, yang merupakan ukuran kesenjangan distribusi pendapatan dan kekayaan penduduk, masih sekitar 40 persen. Untuk itu, Presiden meminta aparat penyelenggara negara bekerja keras menurunkan indeks kesenjangan tersebut melalui berbagai langkah yang multidimensi.

Tema “Pemerataan Pembangunan Indonesia yang Berkeadilan sebagai Wujud Kebangkitan Nasional” yang menjadi tema peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2017, menurut Menkominfo, merupakan pesan yang tepat dan seyogyanya tidak hanya tertanam di dalam hati, namun juga segera diwujudkan melalui strategi, kebijakan, dan implementasi dalam pelayanan kita kepada masyarakat dan bangsa.

“Satu abad lebih sejak organisasi Boedi Oetomo digagas telah memunculkan dimensi baru dalam lanskap sosial budaya seluruh umat manusia. Perubahan besar telah terjadi, yang kalau boleh kita rangkum dalam satu kata, kiranya “digitalisasi” adalah kata yang tepat,” ujar Dr. Sahid.

Berkah digitalisasi yang paling nyata, lanjut Dr. Sahid, hampir terjadi di setiap sektor terkait dengan dipangkasnya waktu perizinan. Proses perizinan yang berlangsung ratusan hari sampai tak terhingga dipangkas secara drastis hingga enam kali lebih cepat dari waktu semula. Kendati, dengan inovasi digital ini setiap sistem dihadapkan pada kejutan-kejutan dan tatacara baru dalam berhimpun dan berkreasi. Sebagian menguatkan, namun tak kalah juga yang mengancam ikatan-ikatan dalam berbangsa. “Satu hai yang pasti, kita harus tetap berpihak untuk mendahulukan kepentingan bangsa di tengah gempuran lawan-lawan yang bisa jadi makin tak kasat mata. Justru karena itulah maka kita tak boleh meninggalkan orientasi untuk terus mewujudkan pemerataan pembangunan yang berkeadilan sosial,” terangnya.

Kedepan, Memnkominfo berharap, agar Bangsa Indonesia bisa meniti ombak besar perubahan digital dengan selamat dan sentosa dan berbuah manis bagi orientasi pelayanan kepada masyarakat. Sebab, hanya dengan semangat untuk tidak meninggalkan satu orang pun tercecer dalam gerbong pembangunan maka Negara Kesatuan Republik Indonesia ini akan tetap jaya. (Nur/Humas)

Sumber

SATU INDONESIA, SATU PANCASILA

UINSA Newsroom, Kamis (01/06/2017); Juni menjadi bulan yang istimewa bagi Bangsa Indonesia. Bulan yang digaungkan sebagai Bulannya Pancasila. Sebab, pada bulan inilah dasar Negara tersebut dirintis sebagai buah pikiran para pendiri bangsa, lantas disahkan sebagai dasar hukum utama Bangsa Indonesia selain UUD 1945. Lebih istimewa lagi, ketika pada tahun 2016, tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila sekaligus Hari Libur Nasional berdasarkan Keppres RI Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Hari Lahir Pancasila. Dalam Keppres tersebut, Presiden RI juga mengamanatkan bahwa Pemerintah bersama seluruh komponen bangsa dan Masyarakat Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni.

UIN Sunan Ampel Surabaya, dalam rangka peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2017 pun menggelar Upacara Bendera yang diselenggarakan di Halaman Gedung Twin Tower pada pukul 08.00 WIB. Dalam upacara yang mengusung tema ‘Saya lndonesia, Saya Pancasila’ tersebut, Dr. H. Imam Ghazali, MA., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora bertindak sebagai Pembina Upacara. Dr. Ghazali yang membacakan sambutan Presiden RI Joko Widodo menyampaikan, bahwasannya Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila merupakan bentuk meneguhkan komitmen untuk lebih mendalami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pancasila, menurut Presiden, merupakan hasil dari satu kesatuan proses yang dari jiwa besar para founding fathers, para ulama, dan pejuang kemerdekaan dari seluruh pelosok Nusantara sehingga bisa membangun kesepakatan bangsa yang mempersatukan. Sebab, keberagaman merupakan kodrat Bangsa Indonesia. “Namun, kehidupan berbangsa dan bernegara kita sedang mengalami tantangan. Kebinekaan kita sedang diuji. Saat ini ada pandangan dan tindakan yang mengancam kebinekaan dan keikaan kita. Saat ini ada sikap tidak toleran yang mengusung ideologi selain Pancasila. Masalah ini semakin mencemaskan tatkala diperparah oleh penyalahgunaan media sosial yang banyak menggaungkan hoax alias kabar bohong,” ujar Dr. Ghazali menegaskan.

Oleh karenanya, Presiden mengajak peran aktif para ulama, ustadz, pendeta, pastor, bhiksu, pedanda, tokoh masyarakat, pendidik, pelaku seni dan budaya, pelaku media, jajaran birokrasi, TNI dan Polri serta seluruh komponen masyarakat untuk menjaga Pancasila. Pemahaman dan pengamalan Pancasila dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus terus ditingkatkan. Ceramah keagamaan, materi pendidikan, fokus pemberitaan dan perdebatan di media sosial harus menjadi bagian dalam pendalaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Komitmen pemerintah untuk penguatan Pancasila, tegas Presiden, sudah jelas dan sangat kuat. Berbagai upaya terus dilakukan. Seperti halnya, telah diundangkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan ldeologi Pancasila guna memperkuat pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, yang terintegrasi dengan program-program pembangunan. Pengentasan kemiskinan, pemerataan kesejahteraan dan berbagai program lainnya, menjadi bagian integral dari pengamalan nilai-nilai Pancasila. “Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bahu membahu menggapai cita-cita bangsa sesuai dengan Pancasila. Tidak ada pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa harus menyatukan hati, pikiran dan tenaga untuk persatuan dan persaudaraan. Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang santun, berjiwa gotong royong dan toleran. Dan tidak ada pilihan lain kecuali kita harus menjadikan lndonesia bangsa yang adil, makmur dan bermartabat di mata internasional,” imbuh Dr. Ghazali.

Diakhir sambutan tertulisnya, Presiden mengingatkan agar waspada terhadap segala bentuk pemahaman dan gerakan yang tidak sejalan dengan Pancasila. Pemerintah pasti bertindak tegas terhadap organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan yang AntiPancasila, Anti-UUD 1945, Anti-NKRl, Anti-Bhrnneka Tunggal/ka. “Sekali lagi, jaga perdamaian, jaga persatuan, dan jagapers audaraan di antara kita. Mari kita saling bersikap santun, saling menghormati, saling toleran, dan saling membantu untuk kepentingan bangsa. Mari kita saling bahu-membahu, bergotong royong demi kemajuan lndonesia,” pungkas Dr. Ghazali. (Nur/Humas)

 

Sumber

Tentang Melupakan dan Sebaik-baiknya Memaafkan

Manusia tidak dapat hidup sendirian. Ia membutuhkan teman. Karena itu, bila ia sendirian, maka ia menciptakan sesuatu dalam benak untuk menemaninya. Ia mengkhayal.

Jika ia di hutan lalu bertemu dengan binatang jinak atau pemandangan yang indah, hatinya terhibur. Tetapi, kegembiraannya akan berganda jika ia bertemu dengan sesama jenisnya, yakni manusia.

Dari sini, menurut sementara pakar, putra-putri Adam dinamai insan. Kata ini, menurut mereka, berasal dari kata uns, yakni “senang dan harmoni”. Manusia adalah mahluk yang senang bertemu dengan sesamanya, juga memiliki kecenderungan berinteraksi harmonis dengan sesama manusia.

Memang ada manusia yang terbuka (ekstrovert) dan ada juga yang tertutup (introvert). Tetapi kalau enggan berkata bahwa pada dasarnya manusia terbuka, maka paling tidak manusia yang terbebaskan dari kompleks kejiwaan adalah yang terbuka dan senang bertemu dengan sesamanya.

Ada juga yang berkata bahwa kata insan berasal dari kata nisy yang darinya lahir kata yang berarti “lupa”. Memang tidak ada manusia yang tidak berpotensi lupa, bahkan tidak ada yang terbebaskan dari lupa. Lupa adalah salah satu nikmat Allah yang sangat besar. Alangkah sengsaranya hidup jika masa sedih dan getir yang dialami tidak terkikis dari ingatan kita. Tanpa melupakannya, bayangan buruk akan selalu menghantui kita.

Ada lagi yang berpendapat bahwa kata insan terambil dari kata an-nusu yang berarti “gerak”. Manusia dalam hidupnya dituntut untuk selalu giat bergerak di persada bumi ini. Nah, dalam pergerakan manusia, demikian juga dalam interaksinya, ia bisa salah dan keliru atau lupa dan khilaf. Itu semua adalah manusiawi.

Dari sini agama memberi tuntunan. Jika dalam interaksi itu ada sesama manusia yang bersalah terhadap Anda, maka: jangan lupa bahwa anda pun dapat melakukan hal yang sama, bahkan bisa lebih buruk. Bukankah anda juga insan/manusia yang sama dengannya?

Melihat kenyataan tersebut, maka agama menganjurkan untuk melupakan kesalahan itu. Agama menganjurkan agar Anda memberi maaf.

Maaf terambil dari kata ‘afa yang berarti “menghapus”. Yang memaafkan adalah ia yang menghapus bekas luka di hatinya. Sesuatu yang telah terhapus mestinya tidak diingatkan lagi. Karena itu, keliru yang berkata bahwa, “Saya maafkan, tetapi saya tidak lupakan”.

Memang, ini tidak mudah. Agama pun hanya menganjurkannya, tidak mewajibkannya, karena pemaafan harus tulus dan pemaksaan bertentangan dengan ketulusan. Islam memperbolehkan seseorang membalas kesalahan siapa pun selama balasan itu setimpal.

Q.S. asy-Syura, ketika menjelaskan sebagian sifat orang yang beriman dan berserah diri kepada Allah, melukiskan mereka antara lain: Apabila mereka diperlakukan dengan zalim maka, mereka — yakni kumpulan orang-orang beriman itu — dukung mendukung dan saling membela. Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Tetapi, lanjutan ayat itu menyatakan, “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (jaminan) Allah (Q.S asy-Syura (42): 40).

Selanjutnya pada ayat 41 surat yang sama, ditekankan sekali lagi bahwa: Sungguh orang yang membela diri sesudah ia teraniaya walau setelah berlalu waktu yang lama, maka tidaklah ada atas mereka satu jalan pun untuk mengecamnya, apalagi menilainya berdosa.

Kemudian pada ayat 43 ditegaskan keutamaan tidak membalas kejahatan pihak lain. Tapi kali ini ayat tersebut tidak menggunakan kata ‘afa (menghapus), tetapi kata shabara yang berarti “menahan diri” dan ghafara yakni “menutupi dan menyembunyikan” — dalam arti memmendam amarahnya dan menyembunyikannya sehingga tidak meledak-ledak berucap sesuatu yang buruk walau kemarahan ada dan hati tetap luka. Maka yang demikian — lanjut ayat tersebut — termasuk hal-hal yang diutamakan.

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa: (1) membalas keburukan — selama dalam batas setimpal — dapat dibenarkan; tetapi (2) menahan amarah dan menyembunyikan dalam hati tanpa berucap buruk walau kesalahan tetap berada di dalam hati, maka itu lebih baik; (3) lalu yang lebih baik lagi daripada itu adalah memaafkan, yakni menghapus luka hati sehingga tidak ada lagi bekasnya dan seakan-akan tidak pernah terjadi; (4) kemudian peringkat tertinggi adalah memaafkan dan berbuat baik kepada siapa yang pernah melakukan kesalahan.

Demikian empat peringkat yang dibenarkan agama. Yang tidak dibenarkannya dan diancamnya dengan siksa adalah yang menganiaya.

Dalam Q.S. Fushshilat ayat 35, Allah berfirman yang maksudnya adalah: Tidaklah sama kebaikan dan pelakunya dengan kejahatan dan pelakunya dan tidak sama juga kejahatan dan pelakunya dengan kebaikan dan pelakunya. Tolaklah sedapat mungkin kejahatan dan keburukan pihak lain dengan memperlakukannya dengan cara yang lebih baik, yakni sebaik-baiknya, kalau tak dapat maka yang baik pun jadilah. Jika itu yang engkau lakukan, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara ia ada permusuhan akan berubah sikapnya terhadapmu sehingga seolah-olah ia telah menjadi teman sangat setia. Sikap menghadapi keburukan dengan kebaikan tidaklah diraih dan diperagakan, kecuali oleh orang-orang yang telah mantap kesabaran serta ketabahannya dan tidaklah ia dianugerahkan melainkan kepada pemilik keberuntungan yang besar dan kesucian jiwa yang luhur.

sumber

Cara Nabi Muhammad Menyikapi Kebhinekaan Madinah

Ketika Nabi Muhammad SAW., tiba di kota Madinah, dalam proses berhijrah meninggalkan Mekkah akibat perlakuan buruk penduduknya, beliau menemukan masyarakat yang plural di Madinah.

Ketika itu, di Madinah terdapat suku-suku yang sebelumnya terlibat dalam peperangan antar mereka selama bertahun-tahun, terutama suku Aus dan Khazraj. Ada juga sekian banyak orang Yahudi dari berbagai suku dengan kekuatan ekonomi serta persenjataan, bahkan benteng-benteng yang kokoh, untuk melindungi diri. Ada juga masyarakat muslim, walau belum banyak. Sebelum Nabi SAW., tiba di Madinah, mereka sudah aktif berdakwah sehingga jumlah muslim dari hari ke hari bertambah. Keanekaragaman itu tercermin pula dalam keanekaragaman agama dan kepercayaan mereka.

Dalam situasi seperti itu, Nabi SAW., hadir. Memang, jauh sebelum kehadiran beliau, berita tentang akan hadirnya seorang nabi telah dipopulerkan orang-orang Yahudi sambil menekankan bahwa jika Sang Nabi datang, pasti mereka akan memperoleh kemenangan menghadapi lawan-lawan mereka. Itu karena mereka menduga bahwa Sang Nabi yang dijanjikan dalam Kitab Perjanjian Lama adalah seorang Yahudi, sebagaimana lazimnya nabi-nabi yang mereka kenal sebelumnya.

Langkah pertama Nabi SAW., begitu tiba di Madinah adalah  membangun masjid sebagai markas kegiatan dan tempat ibadah. Dari sana lahir langkah-langkah berikutnya, yaitu mempersatukan umat Islam penduduk Madinah/al-Anshar dengan para pendatang dari Mekkah, yakni al-Muhajirin. Setiap Muhajir hidup dalam keterbatasan akibat terpaksa meninggalkan keluarga dan harta benda di Mekkah. Karena itu, Nabi SAW., “mempersaudarakan” setiap muhajir dengan seorang anshar yang siap mendukung saudaranya yang datang dari Mekkah.

Langkah selanjutnya adalah menjalin hubungan persaudaraan antara seluruh penduduk Madinah dengan mengikat mereka semua dalam satu piagam yang kemudian dikenal dengan nama “Piagam Madinah”. Dalam piagam itu, semua anggota kelompok diakui eksistensinya dan dilindungi hak-haknya. Semua memperoleh hak melaksanakan agama dan kepercayaannya tanpa boleh diganggu gugat oleh siapapun. Lalu semua juga sepakat tampil membela kota Madinah jika datang serangan dari luar.

Nabi Muhammad SAW disepakati menjadi pemimpin mereka. Dalam kesepakatan itu, lahirlah aneka aktivitas yang menyejahterakan masyarakat. Nabi antara lain melakukan sensus penduduk Muslim, membangun pasar serta menggali sekian banyak sumur yang kesemuanya merupakan kebutuhan masyarakat.

Selama periode Madinah ini, keadilan diterapkan secara utuh (tanpa kecuali) oleh Nabi, termasuk terhadap Muslim yang melanggar.

QS. An-Nisa ayat 105 menguraikan betapa seorang Yahudi yang dituduh mencuri oleh seorang Muslim yang justru si Muslim munafik itulah pencurinya. Ayat tersebut turun untuk mengingatkan Nabi agar tidak terpengaruh dengan “keislaman” sang pencuri sehingga memenangkannya atas sang Yahudi itu. Demikian keadilan dimemenangkannya atas sang Yahudi itu. Demikian keadilan ditegakkan di tengah masyarakat plural yang dipimpin oleh Nabi.

Dalam periode Madinah ini juga, turun ayat-ayat yang mengajak umat Islam bekerja sama dengan siapapun selama kerja tersebut dalam kebaikan. Firman Allah: Tolong-menolonglah dalam kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan (QS. Al-Maidah ayat 2). Tuntunan Allah ini turun dalam konteks uraian tentang sikap buruk kaum musyrik yang menghalangi Nabi dan kaum Muslim berkunjung ke Masjid al-Haram untuk beribadah.

Dalam periode Madinah ini juga, firman Allah yang menegaskan bahwa izin Allah untuk melakukan pembelaan kebenaran atas para penindas bertujuan untuk memeliharan tempat-tempat ibadah. Qs. Al-Hajj ayat 40 menegaskan bahwa:

“Sekiranya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian manusia yang lain tentulah telah dirobohkan oleh para penindas biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog, dan masjid masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. (Tetapi Allah tidak menghendaki roboh-robohnya tempat-tempat peribadatan itu. Sambil bersumpah, Allah melanjutkan firman-Nya bahwa) Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama dan nilai-nilaiNya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Dalam masyarakat plural yang dipimpin oleh Nabi itu juga lahir apa yang dikenal dengan janji Nabi kepada orang-orang Kristen yang bermukim di Najran. Peristiwa ini bermula dari surat yang dikirim Nabi kepada Uskup Najran, Abu Haritsah, yang mengajaknya bersama penduduk Najran untuk memeluk Islam. Sang Uskup mengutus 60 tokoh pemuka agama Nasrani untuk bertemu dengan Nabi dan berdiskusi menyangkut ajaran Islam dan Kristen
Mereka disambut hangat dan penuh hormat oleh Nabi, bahkan sekian banyak riwayat menyebutkan bahwa Nabi mengizinkan mereka melaksanakan ibadah mereka di Masjid Nabawi. Perlu dicatat bahwa izin Nabi SAW., untuk rombongan Najran melaksanakan ibadah mereka di Masjid Nabawi dinilai oleh sementara ulama sebagai peristiwa khusus yang tidak wajar lagi diulangi. Lebih-lebih dewasa ini, mengingat bahwa hal tersebut dapat memicu kesalahpahaman. Demikian juga sebaliknya, kendati ulama membolehkan salat di gereja selama bersih. Namun dengan alasan yang sama, maka hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan.

Setelah diskusi panjang yang tidak menemukan titik temu, tidak ada usul (dari umat muslim) untuk berdoa kepada Tuhan guna menjatuhkan sanksi terhadap yang salah  karena keengganan delegasi Najran (masuk Islam), maka delegasi itu kembali ke kampung halaman mereka sambil membawa janji Nabi buat semua umat Nasrani di mana pun dan kapan pun yang, intinya, berisi janji dari Nabi untuk melindungi mereka (Lihat teks janji Nabi tersebut

Anda jangan berkata bahwa ini terjadi pada awa masa Islam! Jangan! Peristiwa ini terjadi pada tanggal 24 bulan Dzu al-Hijrah tahun ke-10 Hijrah, yakni sekitar tiga bulan sebelum Nabi Muhammad SAW wafat (red: artinya Islam sudah dalam posisi yang kokoh saat itu). Nabi wafat menurut pendapat yang popular pada 12 rabi’ul al-awwal tahun ke-11 H.

sumber

Aksi Demian di America’s Got Talent dan Risiko Escape Artist

Demian Aditya memperkenalkan diri sebagai Escape Artist di depan Simon Cowell, Heidi Klum, Mel B, dan Howie Mandel. Istilah itu biasa digunakan untuk para pesulap yang biasa melakukan trik meloloskan diri dari kekangan atau bahkan kematian. Trik yang dipertontonkan Demian di depan panel juri America’s Got Talent (AGT) membuat para penonton terperangah keheranan.

Ia berbaring dengan leher, pinggang, dan kakinya dikekang di dalam sebuah peti kaca yang bisa disaksikan penonton dari luar. Sebelumnya, kedua tangannya ia borgol sendiri terlebih dulu. Di atas Demian, sebuah kotak penuh pasir terpasang. Pasir itu terus jatuh sedikit demi sedikit sebelum akhirnya akan menimpa Demian, jika ia tak berhasil melepaskan diri dalam waktu dua menit. Nyawanya dipertaruhkan dalam aksi itu.

Risikonya lumayan tinggi: kalau tak mati tertimpa pasir seberat 900 pound atau sekitar 409 kilogram, partikel-partikel pasir yang kecil dan tajam itu bisa saja masuk ke saluran pernapasannya dan jadi penyakit di dalam paru-paru. Namun, kalau tak mengambil risiko sebesar itu, penampilan Demian mungkin tak berhasil mencuri perhatian para juri.

Dalam video empat menitan yang merekam aksi itu, kegelisahan penonton tergambar jelas selama Demian melakukan aksinya. Sara Wijayanto, sang istri bahkan sesekali berteriak dari sisi panggung bersama Tyra Banks, sang pembawa acara. Tampang tegang para juri juga jadi hiburan bagi penonton di rumah.

Situasi makin tegang ketika kelihatannya gembok di bagian leher Demian tersangkut dan tak mau lepas, sampai akhirnya pasir jatuh menimpanya. Howie Mandel sempat berdiri dan bertanya apakah kejadian itu termasuk kesalahan teknis. Yang lain juga tegang di tempatnya, berpikiran hal sama: “apakah pasir yang jatuh menimpanya adalah bagian pertunjukan Demian?”

Di saat yang sama dua orang asistennya—memakai pakaian serba hitam, dari topi hingga sepatu—naik ke atas panggung dengan gelagat panik. Satu di antaranya berjalan ke belakang kotak, mengambil palu dan memecahkan kaca di tumpukan pasir itu. Asisten yang memecahkan kaca itu lalu berbalik menghadap penonton, melempar palu ke lantai, dan melepas topinya. Ternyata dia adalah Demian.

Para juri masih ternganga, sementara riuh sorakan penonton membahana di penjuru studio. Video yang dirilis 30 Mei kemarin itu viral dan telah ditonton hingga lebih dari 15 juta kali. Di YouTube Indonesia, ia menempati trending pertama selama beberapa hari terakhir. Media Indonesia juga ramai-ramai mengapresiasi aksi internasional Demian.

Namun sayang, tak semua buah yang jatuh dari pohon yang sama terasa manis. Reaksi terhadap aksi Demian juga tak semuanya bernada positif. Di kolom komentarnya yang menembus angka 46 ribu, sebagian orang Indonesia menganggap perayaan aksi Demian terlalu berlebihan, aksinya biasa saja, bahkan ada yang menjabarkan rahasia trik tersebut. Yang lebih parah, ada komentar sinis tentang kekhawatiran Sara yang dianggap hanya sandiwara belaka.

Desta, pembawa acara Tonight Show tak segan-segan langsung melempar pertanyaan itu ke Sara ketika bertamu ke acaranya. “Tapi itu berarti lo akting dong kan, Sara? Cemas beneran?”

Sara dengan tenang menjelaskan mengapa ia begitu cemas atas aksi suaminya. Ia, sebagai orang terdekat Demian, tahu berapa kali latihan yang harus dilakukan sang Escape Artist untuk bisa mulus menjalankan aksi tersebut. Ia juga tahu berapa kali kegagalan yang sudah dihadapi Demian dalam persiapannya. Di sejumlah gelar wicara lain, Sara juga menjelaskan tentang risiko yang dihadapi suaminya. Termasuk risiko kematian yang kurang dihargai para haters.

Argumen Sara benar. Di Indonesia, profesi Escape Artist memang bukan sesuatu yang populer. Nama mereka yang dikenal luas lewat profesi ini juga tak sebanyak pekerja lain di dunia hiburan.

Deddy Corbuizer, seorang pembawa acara yang dikenal karena kiprahnya di dunia sulap Indonesia juga punya komentar serupa. “You know what, salah satu alasan saya berhenti main sulap itu because of that (nyinyiran dan cemoohan negatif tentang trik-trik pesulap),” kata Deddy. “Because, there is no hope for Indonesian magician (Karena, tak ada harapan untuk pesulap Indonesia).” Ia juga menyayangkan komentar-komentar negatif yang muncul atas aksi Demian di AGT.

Padahal seorang pesulap dituntut harus kreatif dan cermat dalam setiap pertunjukan. Bahkan seorang Escape Artist tak jarang harus memainkan aksi yang bisa mengancam nyawanya. Salah satu yang paling terkenal dan belum tergantikan hingga kini adalah Harry Houdini. Bahkan menurut Edwin Dawes, sejarawan khusus dunia sulap, dalam bukunya The Great Illusionist, Houdini adalah figur yang mendalangi tenarnya eskapologi (sebutan untuk trik sulap meloloskan diri), sebagai salah satu cabang sulap.

Namun, saat Houdini mendedikasikan kariernya mengeksplorasi berbagai jenis trik sulap meloloskan diri sejak 1891 hingga 1926, saat itu istilah escapologist atau eskapologi belum dikenal. Ia baru mulai digunakan lebih luas ketika pesulap Australia Norman Murray menggunakan nama panggung Murray si Escapologist pada 1930.

Sumber

Cara Agar Tubuh Tetap Terhidrasi Selama Puasa

Air putih menjadi alternatif paling baik untuk membuat tubuh terhidrasi. Namun, selama menjalankan ibadah puasa, tubuh tidak diberi asupan H20 seharian, sehingga perlu asupan tambahan agar cairan dalam tubuh tercukupi.

Ada banyak makanan dan minuman yang bisa dikonsumsi untuk menjaga tubuh agar tetap segar dan terhidrasi sepanjang hari. Jika Anda merasa bosan dengan air putih, berikut delapan cara agar tubuh tetap terhidrasi, terutama selama menjalankan ibadah puasa, seperti dikutip dari Gulf News.

1. Makan semangka
Semangka terdiri dari 92 persen air, dan 8 persen buah. Cairan yang ditemukan dalam semangka meliputi garam, kalsium dan magnesium, yang merupakan komponen sempurna untuk melembabkan kembali tubuh setelah satu hari berpuasa. Semangka bisa dibuat jus atau dipotong-potong dan langsung dikonsumsi.

2. Minum susu
Susu bisa menjadi alternatif selain air putih untuk membuat tubuh terhidrasi. Susu bisa dikonsumsi bersama dengan sereal saat berbuka puasa. Kandungan kalsium dalam susu sangat bermanfaat agi tubuh Anda. Susu rendah lemak atau susu coklat lebih disarankan untuk menjaga tubuh terhidrasi sepanjang hari. Minuman ini juga bisa membantu pemulihan setelah berolahraga.

3. Makan sup waktu berbuka
Sup adalah makanan berbuka yang pas untuk berbuka karena selain mengandung air, juga sehat dan bergizi. Makanan ini mampu meningkatkan asupan cairan dan mengambalikan energi Anda setelah seharian berpuasa.

4. Konsumsi smoothie
Pilih beberapa buah yang mengandung banyak air seperti jeruk, semangka, apel, nanas, lalu buatlah smotthie. Alih-alih menambahkan yogurt atau susu, cobalah menambahkan air dan es sebagai gantinya. Ini akan membuat Anda terhidrasi dan kenyang lebih lama. Buat smoothie dalam jumlah banyak, sehingga Anda bisa mengonsumsinya saat sahur dan berbuka.

5. Hindari makanan asin
Menghindari makanan asin rasanya lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Namun, Anda harus berusaha melakukannya karena kandungan garam dalam makanan asin akan menguras cairan dalam tubuh Anda lebih cepat. Tubuh biasanya hanya membutuhkan sedikit kandungan garam, yang bisa didapat secara alami dari beberapa jenis buah dan sayur. Jadi, cobalah untuk menghindari gorengan seperti kentang goreng, ayam goreng, lalu gantilah dengan sayur dan buah-buahan.

6. Salad bisa jadi pilihan
Jika Anda tidak terlalu menyukai sup, Anda bisa membuat salad untuk berbuka atau sahur. Utamakan selada ada dalam campuran salad Anda, karena selada mengandung 96 persen air. Selada menjadi pilihan tepat jika Anda ingin melembabkan tubuh Anda kembali. Tambahkan sayuran lain seperti mentimun dan tomat yang juga mengandung banyak air.

7. Hidrasi tubuh dari luar
Setelah Anda mengonsumsi makanan dan minuman di atas, Anda juga perlu melembabkan tubuh dari luar. Pastikan Anda melembabkan kulit agar tetap segar dan terhidrasi. Waktu terbaik untuk melakukannya adalah setelah mandi dan sebelum tidur. Jangan lupa untuk memakai tabir surya jika Anda harus berkegiatan di luar pada siang hari.

8. Jangan terlalu sering mencuci muka
Mungkin Anda berpikir dengan mencuci muka, kulit Anda menjadi lembab karena tersentuh air. Hal itu mungkin benar jika Anda tidak terlalu sering mencuci muka, karena mencuci muka menghilangkan minyak alami yang diproduksi kulit dan malah membuat kuit semakin kering. Jika Anda sering mencuci muka, pastikan sering menggunakan pelembab agar kulit tetap lembab dan segar.

sumber : https://tirto.id/cara-agar-tubuh-tetap-terhidrasi-selama-puasa-cqbA