Tentang Melupakan dan Sebaik-baiknya Memaafkan

Manusia tidak dapat hidup sendirian. Ia membutuhkan teman. Karena itu, bila ia sendirian, maka ia menciptakan sesuatu dalam benak untuk menemaninya. Ia mengkhayal.

Jika ia di hutan lalu bertemu dengan binatang jinak atau pemandangan yang indah, hatinya terhibur. Tetapi, kegembiraannya akan berganda jika ia bertemu dengan sesama jenisnya, yakni manusia.

Dari sini, menurut sementara pakar, putra-putri Adam dinamai insan. Kata ini, menurut mereka, berasal dari kata uns, yakni “senang dan harmoni”. Manusia adalah mahluk yang senang bertemu dengan sesamanya, juga memiliki kecenderungan berinteraksi harmonis dengan sesama manusia.

Memang ada manusia yang terbuka (ekstrovert) dan ada juga yang tertutup (introvert). Tetapi kalau enggan berkata bahwa pada dasarnya manusia terbuka, maka paling tidak manusia yang terbebaskan dari kompleks kejiwaan adalah yang terbuka dan senang bertemu dengan sesamanya.

Ada juga yang berkata bahwa kata insan berasal dari kata nisy yang darinya lahir kata yang berarti “lupa”. Memang tidak ada manusia yang tidak berpotensi lupa, bahkan tidak ada yang terbebaskan dari lupa. Lupa adalah salah satu nikmat Allah yang sangat besar. Alangkah sengsaranya hidup jika masa sedih dan getir yang dialami tidak terkikis dari ingatan kita. Tanpa melupakannya, bayangan buruk akan selalu menghantui kita.

Ada lagi yang berpendapat bahwa kata insan terambil dari kata an-nusu yang berarti “gerak”. Manusia dalam hidupnya dituntut untuk selalu giat bergerak di persada bumi ini. Nah, dalam pergerakan manusia, demikian juga dalam interaksinya, ia bisa salah dan keliru atau lupa dan khilaf. Itu semua adalah manusiawi.

Dari sini agama memberi tuntunan. Jika dalam interaksi itu ada sesama manusia yang bersalah terhadap Anda, maka: jangan lupa bahwa anda pun dapat melakukan hal yang sama, bahkan bisa lebih buruk. Bukankah anda juga insan/manusia yang sama dengannya?

Melihat kenyataan tersebut, maka agama menganjurkan untuk melupakan kesalahan itu. Agama menganjurkan agar Anda memberi maaf.

Maaf terambil dari kata ‘afa yang berarti “menghapus”. Yang memaafkan adalah ia yang menghapus bekas luka di hatinya. Sesuatu yang telah terhapus mestinya tidak diingatkan lagi. Karena itu, keliru yang berkata bahwa, “Saya maafkan, tetapi saya tidak lupakan”.

Memang, ini tidak mudah. Agama pun hanya menganjurkannya, tidak mewajibkannya, karena pemaafan harus tulus dan pemaksaan bertentangan dengan ketulusan. Islam memperbolehkan seseorang membalas kesalahan siapa pun selama balasan itu setimpal.

Q.S. asy-Syura, ketika menjelaskan sebagian sifat orang yang beriman dan berserah diri kepada Allah, melukiskan mereka antara lain: Apabila mereka diperlakukan dengan zalim maka, mereka — yakni kumpulan orang-orang beriman itu — dukung mendukung dan saling membela. Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Tetapi, lanjutan ayat itu menyatakan, “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (jaminan) Allah (Q.S asy-Syura (42): 40).

Selanjutnya pada ayat 41 surat yang sama, ditekankan sekali lagi bahwa: Sungguh orang yang membela diri sesudah ia teraniaya walau setelah berlalu waktu yang lama, maka tidaklah ada atas mereka satu jalan pun untuk mengecamnya, apalagi menilainya berdosa.

Kemudian pada ayat 43 ditegaskan keutamaan tidak membalas kejahatan pihak lain. Tapi kali ini ayat tersebut tidak menggunakan kata ‘afa (menghapus), tetapi kata shabara yang berarti “menahan diri” dan ghafara yakni “menutupi dan menyembunyikan” — dalam arti memmendam amarahnya dan menyembunyikannya sehingga tidak meledak-ledak berucap sesuatu yang buruk walau kemarahan ada dan hati tetap luka. Maka yang demikian — lanjut ayat tersebut — termasuk hal-hal yang diutamakan.

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa: (1) membalas keburukan — selama dalam batas setimpal — dapat dibenarkan; tetapi (2) menahan amarah dan menyembunyikan dalam hati tanpa berucap buruk walau kesalahan tetap berada di dalam hati, maka itu lebih baik; (3) lalu yang lebih baik lagi daripada itu adalah memaafkan, yakni menghapus luka hati sehingga tidak ada lagi bekasnya dan seakan-akan tidak pernah terjadi; (4) kemudian peringkat tertinggi adalah memaafkan dan berbuat baik kepada siapa yang pernah melakukan kesalahan.

Demikian empat peringkat yang dibenarkan agama. Yang tidak dibenarkannya dan diancamnya dengan siksa adalah yang menganiaya.

Dalam Q.S. Fushshilat ayat 35, Allah berfirman yang maksudnya adalah: Tidaklah sama kebaikan dan pelakunya dengan kejahatan dan pelakunya dan tidak sama juga kejahatan dan pelakunya dengan kebaikan dan pelakunya. Tolaklah sedapat mungkin kejahatan dan keburukan pihak lain dengan memperlakukannya dengan cara yang lebih baik, yakni sebaik-baiknya, kalau tak dapat maka yang baik pun jadilah. Jika itu yang engkau lakukan, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara ia ada permusuhan akan berubah sikapnya terhadapmu sehingga seolah-olah ia telah menjadi teman sangat setia. Sikap menghadapi keburukan dengan kebaikan tidaklah diraih dan diperagakan, kecuali oleh orang-orang yang telah mantap kesabaran serta ketabahannya dan tidaklah ia dianugerahkan melainkan kepada pemilik keberuntungan yang besar dan kesucian jiwa yang luhur.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s